Saturday, April 14, 2007

Marzuki Usman “Berasal dan Hidup dari Hutan”

Merujuk biografinya, Marzuki sama sekali tidak pernah bergelut dengan hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan masalah hutan. Tapi tampaknya, Marzuki Usman sangat yakin bisa melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai Menteri Kehutanan. Alasannya sederhana saja: di Jambi, tanah kelahirannya, dia mengaku berasal dan hidup dari hutan. Ia juga belajar tentang hutan secara otodidak. “Saya cukup kenal masalah hutan, meski bukan lewat pendidikan formal,” kata bekas Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini seperti dikutip Kompas, 17 Maret.

Bacaan-bacaan, juga pergaulan dengan orang-orang yang mengerti tentang lingkungan, telah menambah pengetahuannya tentang “job baru”-nya itu. Soal bacaan dan pergaulan, memang dua hal yang bisa membuat seseorang well inform terhadap sesuatu. Dan, untuk menjadi seorang menteri, yang note bene jabatan politis, seseorang meamng tidak harus menjadi ahli benar dalam bidang yang menjadi tanggungjawabnya. Tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan: keterbukaannya untuk menimba dari “bawah”, dari ahli-ahli atau praktisi yang bakal mendukung pekerjaannya.

Tidak ada yang menduga bahwa ia yang ditunjuk Gus Dur untuk menggantikan Nurmahmudi Ismail yang diberhentikan karena “berselisih paham” dengan sang Presiden. Marzuki sendiri, ketika namanya disebut-sebut secara gencar sebagai calon pengganti Mahmudi, Jumat (16/3), sedang merayakan ulang tahun anaknya. Tidak jelas, apakah sebelumnya ia sudah pernah dihubungi.

Untuk masalah ekonomi, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini tidak diragukan. Dia pernah menjadi Kepala Badan Pengelola Pasar Modal (Bapepam), Kepala Badan Analisa Keuangan dan Moneter Departemen Keuangan (1996), Komisaris Utama PT Bursa Efek Jakarta. Bahkan, ketika menjabat Menteri Pariwisata dan Seni di era kepresidenan Habibie, ia juga sempat merangkap jabatan sebagai Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Tetapi kemudian, jabatan menteri itu ditinggalkannya, karena ia lebih tertarik menjadi anggota MPR utusan golongan mewakili ISEI (1999). Namun, keaktivannya di gedung wakil rakyat itu hanya sementara. Kemudian, ia banting stir ke dunia usaha, bergabung dengan group Lippo. Dia ditunjuk sebagai sebagai deputy chairman PT Lippo Life, Tbk (kini berganti menjadi PT Lippo E-Net, Tbk). “Ia seorang tokoh nasional yang paling unik dan istimewa,” komentar Billy Sindoro, chairman Lippo Life Tbk, mengenai Marzuki.

Itu tak lain, karena Marzuki memiliki wawasan dan pengalaman yang begitu luas, khususnya dalam bidang ekonomi, perbankan dan moneter, asuransi, investasi, pasar modal, perdagangan internasional dan pengelolaan BUMN. Semua itu membuat dia disegani baik di dalam maupun luar negeri “Pemikirannya yang tajam akan makin mengukuhkan implementasi strategi pengembangan bisnis internet dan e-commerce Lippo Life Tbk," tambah Billy.

Kemampuan Marzuki ini, teruji saat ia mengubah nama PT Lippo Life Tbk menjadi PT Lippo E-Net Tbk. Walaupun langkah Lippo saat itu dinilai melanggar UU No 2/1999 tentang usaha perasuransian, ia bersikukuh bahwa perubahan nama dari PT Lippo Life Tbk menjadi PT Lippo E-Net Tbk, tidak serentak mengubah bisnis utama (domain) perusahaan tersebut, yaitu asuransi jiwa. “Perubahan yang terjadi bukan seperti katak menjadi kambing. Akan tetapi, seperti ayam yang berubah warnanya saja,” kata Marzuki menganalogikan.

Hal itu dilakukan, karena perkembangan teknologi informasi yang kini berkembang begitu pesat sangat berpengaruh pada nilai saham perusahaan. "Sekarang terserah kita. Jangan salahkan kalau orang-orang pergi ke Hongkong. Jangan dibilang mereka anasionalis, sebab dunia sudah tanpa batas. Kita harus mampu menggerakkan bisnis teknologi informasi. Bila kita tidak waspada, kesempatan itu akan diambil orang luar," ujarnya.

Gebrakan semacam inilah yang menjadi ciri khas seorang Marzuki Usman. Saat menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya (merangkap sebagai Meninves/Kepala BKPM) masa Presiden BJ Habibie, ia mengkritik tajam upaya menutup-nutupi kondisi di Indonesia oleh sebagian besar pengusaha di bidang industri pariwisata dan pejabat pemerintah di lingkungan Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya (Deparsenibud) atau Dinas Pariwisata di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda).

Pengusaha maupun pejabat tidak perlu merasa malu memberitahukan hal-hal buruk yang terjadi di dalam negeri kepada para wisatawan atau calon wisatawan mancanegara (wisman) yang telah datang atau akan datang ke Indonesia. "Saya tak tahu bagaimana mendobrak budaya tidak suka berterus terang ini,” katanya ketika itu. Selama ini, kita berusaha keras menutup-nutupi barang jelek. Kita bilang, semua aman-terkendali. Tidak ada apa-apa, semua beres.

Sebenarnya, dulu Marzuki tidak pernah bercita-cita menjadi ekonom atau praktisi dalam bidang itu. Keinginan kuat putra keempat dari sembilan bersaudara pasangan H. Usman Abul dan Cholijah ini justru menjadi dokter. “Ayah saya bilang, menjadi dokter itu enak. Suntik orang dapat duit,” katanya suatu kali kepada Matra. Begitu lulus SMA di Jambi, ia langsung berangkat ke Yogyakarta.

Di kota gudeg itu, ia mendaftar di Fakultas Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Sospol, dan Ekonomi di Universitas Gadjah Mada. Marzuki pun diterima di Fakultas Kedokteran Gigi, Sospol, dan Ekonomi. Sementara di Fakultas Kedokteran Umum, tidak diterima. Tetapi kemudian ia lebih memilih Fakultas Ekonomi. Alasannya: biayanya murah. Tentu itu lebih aman baginya, sebagai anak petani, yang hidup dalam kekurangan.

Pilihannya studi di fakultas ekonomi itu memang memberi jalan terang buatnya. Soal cita-cita menjadi dokter kandas, mungkin itulah yang terbaik buatnya. “Karena teman saya yang jadi dokter, sampai sekarang masih jadi dokter Puskesmas...ha...ha..,” tambah ayah lima anak dan suami dari Aswarni, yang dinikahinya pada 1972 ini.

Bicara kesuksesan, Marzuki punya kenangan menarik. Ketika kelas tiga SD, ayahnya membeli buku ilmu bumi dunia. Di situ ada gambar New York, Australia dan macam-macam. Lalu, putra keempat dari sembilan bersaudara ini menyatakan keinginannya ke kota-kota itu. Sang ayah menanggapi: “Kamu bisa ke sana, kalau sekolah.” Tentu, kemudian hal itu, bahkan mungkin keliling dunia, bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Anak Mersang – sebuah kampung yang berjarak 160 km dari Jambi arah ke Padang – ini bisa melakukannya kapan saja.

Marzuki pernah menulis buku tentang kisah dirinya, “Tiga Menakbir Mimpi”. Buku ini diluncurkan pada hari lahirnya ke-55, dan berkisah tentang Sabeni, anak desa yang memiliki keinginan keras untuk maju. Tokoh inilah yang dianggap mencerminkan kepribadiannya. (MIS/Dara Meutia Uning). (Sumber : Website Koran Tempo).